Kopi: Sang Pelindung Hati yang Tak Terduga


Kopi: Sang Pelindung Hati yang Tak Terduga

Kopi telah menjadi minuman yang teramat populer di dunia. Rasanya yang lezat dan efeknya yang menstimulasi membuat kopi menjadi pilihan favorit bagi banyak orang. Namun, selama tahun-tahun, berbagai mitos sudah menyebar tentang kopi dan pengaruhnya terhadap kesehatan.

Ada cerita di Sebuah kampus yang menyaksikan perjuangan, usaha keras, dan cerita beberapa individu yang berbeda dalam persepsi mereka tentang kopi. Beberapa cerita yang menyampaikan kepada kita tentang fakta dan fiksi, tentang pemberanian dan kelemahan, dan tentang bagaimana seleksi kita dalam melakukan hidup bisa merubah segalanya.

Dibalik redupnya cahaya lampu kampus yang menyala hingga larut malam, terdapat dua kisah hidup mahasiswa yang bersamaan.

Di kampus yang sibuk dan dipenuhi oleh tantangan, ada seorang mahasiswa yang dikenal luas sebagai pengontrol Kafein. Namanya Arif, mahasiswa yang dikenal keras kepala ketika berbicara dengan dosen-dosen pengujinya, tapi ia memiliki otak yang cepat menyerap ilmu bagai spons yang menyerap air. Setiap hari, ritualnya tetap konsisten, sebuah ritual pour over yang dia lakukan dengan sangat konsentrasi, menarik keluar esensi dari biji kopi terbaik untuk mengisi malam-malam yang melelahkan bersama buku dan catatan skripsi.

Arif tidak percaya pada anggapan kopi memicu dehidrasi, alih-alih ia merasa hidrasi jiwanya terpenuhi setiap kali menyeruput kopi hasil seduhannya sendiri. Tidak ada jantung berdebar tak menentu, hanya ritme semangat yang sinkron dengan irama keberhasilannya membuka tabir ilmu pengetahuan. Kopi untuknya bukan penyebab insomnia, tapi lentera lampu pemandu yang memandunya melewati lorong-lorong pemikiran hingga menyingsing fajar.

Sementara itu, di sisi lain kampus, ada mahasiswa yang namanya Dian. Dian tidak minati kopi. Dia lebih memilih minuman berkarbonasi yang berkilau dengan kandungan gula yang seolah-olah merasa sementara gembira. Tapi kekuatannya palsu, mirip gemerlap lampu yang menyilaukan sebelum pada akhirnya padam. Dian struggle lawan kantuk yang datang setelah efek soda itu menghilang, dan memori yang semakin buram tak mampu bersaing dengan kecerdasan Arif yang cemerlang. Dia tidak yakin saat presentasi, lemah dalam diskusi, dan lambat laun, kesehatannya terkikis, membuatnya sakit dan harus menunda wisuda yang telah hampir tiba.

Arif, dengan cangkir pour over-nya yang menyertai segala studi kasus, setiap rumus yang dikuasai, dan tiap bagian skripsi yang dia tulis, menjadi mahasiswa yang selalu terdepan. Dia percaya bahwa kopi adalah kompanionnya dalam memperjuangkan tiap langkah di dunia akademik. Dan di hari wisuda, dengan rasa percaya diri yang memuncak, ia march lewat para dosen dengan toga yang berwibawa, mengambil ijazah dengan tawa bahagia. Tak lupa, ia membawa gelas kopi mungil yang senantiasa menjadi pendampingnya dalam gembira dan duka. Kopi, bagi Arif, bukan hanya teman sejati, tapi juga lambang kerja keras dan kesuksesannya.

Dian, di ranjangnya, melihat ke atas dengan rasa penyesalan. Minuman bersoda yang sebelumnya dia anggap teman, kini menjadi representasi kegagalannya. Tapi bersama kesedihan itu, ada benih kearifan yang muncul. Dia menyadari bahwa kopi tak ada benciannya, dan mitos yang telah dia percaya selama ini tentang minuman favorit Arif itu hanyalah fiksi belaka. Dia menyimpulkan, bila diberi kesempatan lagi, dia akan berusaha mengadopsi kopi, bukan sebagai pengganti soda, tapi sebagai tanda transformasi dan akseptasi atas realita, bukan mitos.

Akhir kata: Kisah Arif dan Dian adalah sebuah cerminan nyata bahwa seringkali mitos menyesatkan kita. Kita biasanya terjebak dalam kesalahpahaman, lalu meninggalkan kesempatan emas dalam hidup kita. Namun, kisah ini juga mengajarkan kita untuk selalu terbuka terhadap kemungkinan baru, untuk mencari fakta, dan untuk memahami bahwa pilihan yang kita buat dalam hidup kita memiliki dampak yang besar.

Pelajaran berharga dari dua mahasiswa ini adalah bahwa kita harus selalu bijak dalam membuat pilihan tentang apa yang kita yakini dan konsumsi, baik itu dalam kopi atau hal-hal lainnya dalam hidup. Adalah penting bagi kita untuk bersikap cakap, berani, dan analitis untuk meraih puncak sukses, bukan hanya berjalan di belakang mitos yang tidak berdasar. Dan jangan lupakan, bahwa keberanian untuk memilih yang benar dapat menuntun kita menuju masa depan yang lebih cerah dan sukses, sebagaimana telah dirasakan oleh Arif.

 

Sumber

Public Health

Pic Generated Ai by Canva

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *