Dehidrasi dan Kopi: Kenapa Mitos Ini Terus Bertahan?



Dehidrasi dan Kopi: Kenapa Mitos Ini Terus Bertahan?

Kopi telah menjadi sejenis minuman teramat populer di dunia. Rasanya yang nikmat dan efeknya yang merangsang membuat kopi berubah menjadi pilihan favorit bagi berbagai orang. Tetapi, selama dekade, berbagai mitos sudah beredar tentang kopi dan efeknya terhadap kesehatan.

Ada cerita di Sebuah kampus yang menyaksikan laga, kerja keras, dan cerita dua individu yang berbeda sekali dalam opini mereka tentang kopi. Beberapa cerita yang mengajarkan kepada kita tentang mitos dan fakta, tentang keberanian dan kelemahan, dan tentang bagaimana seleksi kita dalam hidup hidup dapat merubah segalanya.

Dibalik redupnya cahaya lampu kampus yang bercahaya hingga larut malam, terdapat dua kisah hidup mahasiswa yang beriringan.

Di kampus yang ramai dan penuh dengan tantangan, tegak seorang mahasiswa yang dikenal luas sebagai pemusnah Kafein. Namanya Arif, mahasiswa yang dikenal kuat pendirian ketika berdiskusi dengan dosen-dosen pengujinya, tapi ia memiliki otak yang cepat menyerap ilmu layaknya spons yang mengisap air. Setiap hari, ritualnya selalu sama, sebuah tahapan pour over yang dia lakukan dengan penuh konsentrasi, mengambil esensi dari biji-biji kopi pilihan untuk mengisi malam-malam yang panjang bersama buku dan catatan skripsi.

Arif jangan pernah percaya pada anggapan kopi menimbulkan dehidrasi, sebaliknya ia merasa hidrasi jiwanya tercukupi setiap kali menyeruput kopi dari racikannya sendiri. Tidak ada palpitasi tak menentu, hanya detak semangat yang harmonis dengan irama keberhasilannya membuka tabir ilmu pengetahuan. Kopi buatnya bukan pemicu insomnia, tapi suatu lampu pemandu yang memandunya menembus lorong-lorong pemikiran hingga muncul fajar.

Pada saat yang sama, di bagian lain kampus, ada mahasiswa yang namanya Dian. Dian tidak suka kopi. Dia lebih memilih minuman soda yang gemerlap dengan kandungan gula yang seolah-olah merasa sementara bersemangat. Tapi kekuatannya palsu, mirip gemerlap lampu yang menyilaukan sebelum akhirnya padam. Dian struggle melawan kantuk yang hadir setelah efek soda itu hilang, dan memori yang semakin buram tak mampu menyaingi kejelian Arif yang cemerlang. Dia tidak yakin saat presentasi, tidak kuat dalam debat, dan lambat laun, kesehatannya terkikis, membuatnya sakit dan harus menunda wisuda yang telah sangat dekat.

Arif, dengan gelas pour over-nya yang dampingi tiap-tiap studi kasus, setiap rumus yang dipelajari, dan tiap bagian skripsi yang dia tulis, menjadi mahasiswa yang selalu terdepan. Dia percaya bahwa kopi adalah kompanionnya dalam memperjuangkan tiap langkah di dunia akademik. Dan di hari wisuda, dengan kepercayaan diri yang memuncak, ia melangkah di hadapan para dosen dengan toga yang gagah, meraih ijazah dengan senyum yang lebar. Tak lupa, ia mengacungkan gelas kopi mungil yang setia bersamanya dalam gembira dan duka. Kopi, bagi Arif, bukan hanya kompanion setia, tapi juga lambang perjuangan dan kesuksesannya.

Dian, di ranjangnya, menatap ke plafon dengan kekecewaan. Minuman bersoda yang pada masa lalu dia anggap teman, kini menjadi representasi kegagalannya. Tapi dari kesedihan itu, ada benih kebijaksanaan yang mulai tumbuh. Dia bermula untuk mengerti bahwa kopi tidaklah menjadi lawan, dan mitos yang ia percayai selama ini tentang pilihan minuman Arif itu hanyalah fiksi belaka. Dia memutuskan, jika diberi kesempatan lagi, dia akan berusaha memeluk kopi, bukan sebagai pengganti soda, tapi sebagai lambang transformasi dan pemahaman atas kenyataan, bukan mitos.

Penutupan: Kisah Dian dan Arif adalah sebuah cerminan nyata bahwa seringkali mitos mengecoh kita. Kita sering terjebak dalam keyakinan yang salah, lalu melewatkan kesempatan emas dalam hidup kita. Namun, kisah ini juga memberikan pelajaran kita untuk selalu terbuka terhadap perubahan, untuk mencari fakta, dan untuk memahami bahwa pilihan yang kita buat dalam hidup kita berdampak signifikan.

Hikmah dari dua mahasiswa ini adalah bahwa kita harus selalu pintar dalam membuat pilihan tentang apa yang kita percayai dan makan, baik itu dalam hal-hal seperti kopi atau elemen lain dalam hidup. Kita harus bersikap terampil, tegas, dan kritikal untuk mencapai kesuksesan sejati, bukan hanya mengikuti mitos yang tanpa dasar. Dan jangan lupakan, bahwa ketegasan dalam membuat keputusan yang benar dapat menuntun kita menuju harapan masa depan yang lebih baik dan sukses, sebagaimana telah dirasakan oleh Arif.

 

Sumber

Medical News

Gambar Generated Ai by Canva

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *